Alhamdulillah SAH ^_^

MINGGU, 4 MEI 2014.
Salah satu hari yang paling bersejarah dalam hidup saya. Dimana hari itu saya mengikat janji suci pernikahan dengan orang yang sama sekali tidak disangka-sangka akan menjadi jodoh saya. Seseorang yang sholeh dan baik. Seseorang yang dipilihkan oleh Allah untuk mendampingi dan menjaga saya, yang saat ini Alhamdulillah telah SAH menjadi SUAMI saya yang akan saya jaga sampai akhir hayat, insyaAllah.

Alhamdulillah tepat 13 hari yang lalu bertempat di Gedung MUI Depok, resmi sudah saya menjadi seorang istri dari Muhammad Tholib. Alhamdulillah puji syukur saya panjatkan kepada Allah SWT yang membuat semuanya berjalan lancar dan sukses tanpa adanya halangan yang memberatkan. Alhamdulillah, semua di lancarkan. Saat itu saya benar-benar merasa menjadi perempuan yang paling bahagia sekaligus sangat bersyukur karena telah diikatnya tali kasih sayang kami berdua dalam sebuah kehidupan baru.

“Saya terima nikahnya dan kawinnya Yulita Nurmalasari binti Najih dengan mas kawin tersebut tunai”
Baca lebih lanjut

Iklan

Ketika Kehidupan Mengajarkanku

Ketika kehidupanku mengajarkan aku menjadi “Yulita Nurmalasari”. Wanita biasa yang tidak sempurna tetapi selalu berusaha menjadi lebih baik.

Menjadi anak dari ayah dan ibuku mengajarkan aku tentang kasih sayang, kerja keras dan kesabaran dalam mendidik dan membesarkan.
Menjadi anak putri satu-satunya mengajarkan aku menjadi orang yang “amanah”. (menjaga kepercayaan orang tuaku dan kakak-kakaku bahwa aku bisa menjaga diri dengan baik).
Menjadi anak putri yang sangat dekat dengan sosok ibu mengajarkan aku bahwa Do’a-do’a indah yang beliau lantunkan dapat membuat aku kuat dan mudah menjalani hari-hariku.
Menjadi anak bungsu mengajarkan aku bahwa tidak selamanya anak bungsu harus manja dan bergantung dengan keluarga. Bahwa anak bungsu pun bisa mandiri dan bisa lebih berprestasi. Baca lebih lanjut

Mr. MT

Jangan pernah merasa memiliki atas apapun, karena semuanya hanyalah titipan. Yang bisa kita lakukan hanya “menjaga” titipan tersebut. Malam, hening, gelap, 00:00, 2 Februari 2013, dan tiba-tiba teringat kata-kata itu.

Kamu benar. Aku tau semua hanya titipan, dan aku bersyukur karna Allah masih mempercayai aku “menitipkan” kamu yang selalu hadir membawa canda #eeeaaa (yaaa walaupun sering ngeselin juga sih, but it’s okey, itu aku anggap bumbu untuk hubungan ini :D)

Ting tooong…
Kita memang sudah kenal cukup lama, tetapi dulu tidak terfikirkan sama sekali di benak aku untuk bisa belajar beradaptasi “lebih” sama kamu. Apalagi sampai sedekat ini. Tanpa disengaja, seiring intensnya berkomunikasi dan berjalannya waktu, kamu berhasil membuat aku “terbiasa” dengan adanya kamu. Mungkin semuanya berawal dari penyesuaian, filling, kecocokan sampai pada kata “nyaman” dan berakhir “menenangkan”. Senyaman dan setenang aku tidur sendiri di kamar dengan keadaan lampu yang mati. Yang sebelumnya aku tidak terbiasa dengan keadaan seperti itu 🙂
Baca lebih lanjut

I Need _ _ _

Aku butuh ruang setiap kali aku merasa sendiri dan sedih..
Aku butuh bahu setiap kali aku ingin bersandar..
Aku butuh seseorang yang bisa menenangkan aku ketika tangisku bertumpah ruah..
Aku butuh sinar yang menerangkanku ditengah kegelapan..
Aku butuh sesosok laki-laki yang membimbing aku dan mengingatkan aku ketika aku salah..
Dan pada akhirnya aku butuh bantuan kamu untuk berpijak menapaki kehidupanku selanjutnya, wahai kamu yang telah tertulis dilauful mahfudzku, imamku, dan ayah dari anak-anakku kelak..

Depok, 15 Oktober 2012

Mampukah Kita Mencintai Tanpa Syarat?

Cerita ini cerita nyata, dikutip dari FB teman saya. Beliau adalah Bapak Eko Pratomo, Direktur Fortis Asset Management yg sangat terkenal di kalangan Pasar Modal dan Investment, beliau juga sangat sukses dlm memajukan industri Reksadana di Indonesia.

* MAMPUKAH KITA MENCINTAI TANPA SYARAT *

– – – sebuah perenungan

Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja bahkan sudah mendekati malam,Pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Mereka dikarunia 4 orang anak disinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak ke empat tiba2 kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi. Setiap hari pak suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum, untunglah tempat usaha pak suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. Sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa saja yang dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur. Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka, sekarang anak2 mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yg masih kuliah. Pada suatu hari ke empat anak suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah, mereka sudah tinggal dengan keluarga masing2 dan Pak Suyatno memutuskan ibu mereka dia yg merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil. Dengan kalimat yg cukup hati-hati anak yg sulung berkata “Pak kami ingin sekali merawat ibu semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak..bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu”. Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata2nya “sudah yang keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian”. Pak Suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak2 mereka.
Baca lebih lanjut

Idolaku Guruku

Ketika aku menulis tulisan ini, saat ini juga air mataku mengalir deras, mengapa? karena aku merasa bersalah telah mengecewakannya. Bagiku “dia” bukan sekedar idola yang aku sayang, tetapi juga sebagai kaka tercintaku, teman terbaiku, bahkan guru yang paling baik yang mengajarkan aku bagaimana menjadi seseorang yang bisa menghargai orang lain, “dia” juga sosok yang selalu memberikan aku semangat untuk mencapai kesuksesanku.

LUCKY PERDANA, ya namanya lucky perdana. Sesosok laki-laki tampan yang sangat baik, bijaksana dan bertanggung jawab. Bagiku “dia” adalah seorang public figure yang memiliki hati yang sangat baik, yang mampu memberikan contoh yang baik kepada aku dan sahabatku yg lainnya, tak pernah ingin “dia” menyusahkan orang lain, tak pernah ingin membuat repot orang tua dan keluarganya. Walaupun “dia” seorang public figure, tapi tidak pernah “dia” menganggap dirinya seorang yang terkenal(artis), karena dari awal “dia” berkarya dengan tujuan yang sangat mulia yaitu membantu mencari nafkah untuk keluarganya. Dan inilah yang membuat saya sangat kagum dan semakin sayang dengannya. Baca lebih lanjut

Doaku

Entah apa yang ada difikiran aku saat ini. Rasanya ingin sekali menulis dan mengungkapkan isi hatiku untuk “dia” yang aku sayang.

Ya Allah Ya Tuhan aku mencintai dan menyayanginya. Walaupun aku tahu “dia” sudah mencintai dan menyayangi orang lain. Walaupun aku tahu aku tak pantas untuknya. Tapi aku ikhlas mencintainya karena diriMu Ya Allah. Ajari aku untuk senantiasa kuat, sabar dan ikhlas menerima kenyataan Ya Allah, aku percaya atas rencanaMu, Aku percaya akan kuasaMU, Aku percaya Engkau mengetahui isi hatiku serta keinginanku.

Aku hanya bisa berdoa untuknya, bahagiakan dia dengan pilihan hatinya, tolong lindungi “dia” dimanapun “dia” berada, jaga dia agar senantiasa melakukan kebaikan dijalanMu, sayangi “dia” dan berikanlah semua yang terbaik untuknya. Ya Tuhan aku sayang “dia”. Bila aku masih dikasih kesempatan untuk bertemu dengannya, izinkan aku untuk  bertemu dengannya, satu kali saja. Tapi jika kami tak dapat dipertemukan dan disatukan didunia, pertemukanlah dan satukanlah kami di surgaMu yang indah, nanti..

Ya Allah ampuni hamba yang selalu mengeluh, jadikanlah hamba orang yang selalu bersyukur.

“Ya Tuhan, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah segala urusanku, dan lepaskanlah kekakuan lidahku, agar mereka mengerti perkataanku.” (QS. Thâha: 27)
Amiiin..